SOROTKEADILAN | Rabu, 20 Mei 2020

Bank Panin KCU Serang Mengabaikan Hak Nasabahnya


Sorot Keadilan.Com,- Jakarta, Barly, Nasabah Bank Panin merasa hak-haknya diabaikan oleh pihak Bank Panin KCU (Kantor Cabang Utama) Serang, Banten.

Berawal dari Barly Barlianta mengajukan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) sebuah rumah tinggal yang berlokasi di Cempaka putih, Jakarta Pusat, melalui Bank Panin KCP (Kantor Cabang Pembantu) Bitung, Tangerang hingga terlaksananya akad kredit jual beli rumah KPR melalui Bank Panin pada 11 Agustus 2016 di hadapan Notaris yang ditunjuk oleh Bank Panin yaitu Rico Ramosan Silalahi

"Sebelum terjadi akad kredit, pihak Bank Panin meminta saya untuk memasukkan uang sebesar 100 juta rupiah ke rekening pribadi saya di bank Panin (dihold) yang bisa dicairkan lagi setelah up date IMB (Izin Mendirikan Bangunan) baru dari rumah tersebut," ucap barly.

Menurut Barly pembayaran kreditnya perbulan lancar hingga tiba saatnya mengalami kejadian Force Major (kajadian diluar kendali) yaitu perampokan pada 22 Desember 2017 di rumah hasil KPR tersebut yang dijadikan kantor.

"Kantor saya dirampok yang mengalami kerugian ditaksir kurang lebih 4 M" kata Barly.

Kejadian ini dilaporkan olehnya ke Polda Metro Jaya sekaligus ke pihak bank Panin dengan menyerahkan bukti pelaporan tersebut.

"Saya menyampaikan ke pihak bank Panin bahwa meskipun dalam keadaan sulit, saya masih berusaha membayar angsuran kredit saya sebesar 80 juta/bulan," ungkapnya.

Namun, sambung Barly, pada bulan Oktober 2018 saya sudah tidak mampu membayar angsuran KPR tersebut.

Rumah di Cempaka Putih tersebut akhirnya disepakati untuk dijual, dimana pihak Bank Panin membantu  memasarkan dengan caranya sendiri dan Barly memasang spanduk dijual di rumah tersebut.

Masalahnya, kata Barly adalah saat dia menemui langsung dan menanyakan ke Bank Panin KCU (Kantor Cabang Utama) Serang, Banten, tanggal 13 April 2020 perihal rumah tersebut karena menurut Bank Panin KCP Bitung permasalahsn ini sudah dilimpahkan ke Bank Panin KCU Serang, Rony Rochim selaku Branch Manager Bank Panin KCU Serang mengatakan sudah beres dan selesai. Rumah tersebut sudah terjual, tapi tak mau memberitahukan terjual berapa, pembelinya siapa maupun risalah lelangnya  juga Outstandingnya dia.

"Saya tak pernah diberitahu perihal lelang kecuali lelang pertama 12 Agustus 2019, itupun disampaikan sehari sebelum lelang tersebut ditutup dan saya langsung ke KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang)  Jakarta V untuk menyampaikan surat permohonan penundaan lelang tersbut," ungkap Barly.

Selain itu masih sambung Barly, hingga saat ini saya tak diberikan salinan Perjanjian kredit saya dan Outstanding (sisa nominal kredit yang harus saya lunasi) dan disetiap kesempatan bertemu dengan pihak Bank Panin saya selalu minta outstanding saya yang selalu dijawab nanti akan dicek di kantor.

"Kami sudah meminta salinan PK ke kantor Notaris Rico R. Silalahi di Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat tapi tak diberikan dan mempersilahkan ke Bank Panin karena dia kepanjangan tangan dari bank Panin, kecuali pengadilan yang memintanya." ujar barly.

Sementara pihak KPKNL Jakarta V, Senen, Jakarta Pusat, saat ditemui media ini, Ince, membenarkan kalau rumah milik Barly sudah terjual melalui lelang sekitar Desember 2019.

"Iya saya sendiri yang menjualnya (lelang) sekitar Desember 2019," kata Ince.

Namun saat ditanyakan terjual berapa dan mana salinan risalah lelangnya djawab.
"Itu ada di bank Panin selaku pengaju lelang, kita tak boleh memberi data sekalipun kepada pemilik rumah tersebut."

Saat media ini mengkonfirmasi ke Rony Rochim terkait tidak diberikannya salinan PK dan Risalah lelang tersebut ke nasabah Bank Panin atas nama Barly, Rony mengatakan : "Bukan kewajiban bank (nasabah) dikasih risalah lelang,"

Kita, masih kata Rony, sudah kasih SP (Surat Peringatan)1 sampai SP3 tapi dia (Barly) tak pernah datang.

"Lelang kita laksanakan sesuai prosedur bank, kita umumkan di media," imbuh ibu Jery bagian Legal Bank Panin KCU Serang yang turut mendampingi Rony di depan awak media Sorotkeadilan.

"Tidak harus (salinan PK diserahkan ke nasabah) karena sudah ada SPPK, ada kesepakatan kedua belah pihak, saat tanda tangan akad kredit, semua sudah dijelaskan oleh notaris," kata Jery memberi alasan mengapa nasabah tak diberikan salinan PK.

Seorang praktisi perbankan yang tak ingin diekspose namanya saat dimintai pendapatnya oleh media ini mengatakan bahwa adalah hak seorang nasabah untuk mendapatkan salinan PK (Perjanjian Kredit) demikian juga Risalah Lelang.

Menurutnya, biasanya sebelum dilakukan lelang ada beberapa tahap, jika alasan nasabah yang cukup jelas dan dapat diverifikasi, tahapannya sebagai berikut:
1). Mengajukan keringanan bayar angsuran sampai beberapa bulan sesuai kesepakatan bank dan nasabah. (apalagi nasabah mangalami force major/perampokan).
2). Apabila kembali menunggak, dapat dilakukan penjualan agunan secara sukarela dalam tenggat waktu sesuai kepakatan bank dan nasabah.

3). Apabila masih belum ada hasil karena sulit mencari pembeli dan nasabah tidak kooperatif, maka dapat dilanjutkan lelang yang disertai dengan surat SP1- SP3 dan pengumuman lelang di media.
4). Umumnya lelang ke 2-3 agunan baru laku terjual.
5). Minta bukti risalah seluruh lelangnya, karena tercantum limit nilai lelang. (untuk memastikan kewajaran nilai agunan yg dilelang)
6). Cek Hak tanggungan (HT) nasabah pada SHT, berapa yang menjadi hak bank? apabila hasil lelang > nilai HT maka selisihnya dapat dikembalikan ke nasabah dengan syarat seluruh biaya-biaya sudah terpenuhi.

Erwin Kallo, property lawyer di depan media sorot juga menyampaikan hal serupa.
"Itu hak nasabah untuk mendapatkan salinan PK dan juga risalah lelang dan hanya ada dua opsi kalau rumah jaminan itu bisa terjual yaitu dijual oleh pemilik atau dijual melalui lelang tanpa ada sisa hutang lagi ke pihak bank," jelas Erwin.

Terkait dengan perlakuan pihak Bank Panin kepada dirinya selaku nasabah dan debitur, Barly sangat menyesalkan dan menilai Bank Panin KCU Serang, Banten tersebut telah mengabaikan hak-haknya.

"Saya merasakan selaku nasabah diabaikan," tegas Barly.

Saat ditanyakan apa rencananya dalam menyikapi perlakuan bank Panin KCU Serang tersebut, Barly mengatakan masih memikirkannya.

"Saya masih mikir langkah apa yang harus saya ambil," ujarnya singkat.

(Darman).

Popular