SOROTKEADILAN | Rabu, 25 Desember 2019

Seakan OSO di Paksa-Paksa Jadi Ketum HANURA ; Ini Pembentukan Opini Yang Narsis.

Hary Ashar, Kader Partai HANURA


Jakarta-sorotkeadilan.com. Langkah penyelamatan partai Hanura yang dilakukan oleh pendiri  yang juga sebagai dewan Pembina Partai Hanura, Dr. H. Wiranto yang didampingi oleh Jenderal TNI (purn) Subagyo HS dan Jenderal Pol (purn) Chairuddin Ismail saat konfrensi pers di hotel Atlet beberapa hari yang lalu. Justru mendapat tanggapan sinis dari Hanura kubu Oesman Sapta Odang (Oso).

 Narasi-narasi negatif yang terus berkembang dan mendiskreditkan Wiranto dari orang-orang loyalis OSO, membuat Kader Hanura, Hary Ashar angkat bicara. Seperti pernyataannya yang dibagikan melalui WA kepada wartawan sorot keadilan pada (25/12).

Ada yang menarik untuk dicermati ketika Oso dengan gagah menyampaikan ke publik bahwa dia dipaksa oleh Pak Wiranto untuk jadi Ketua Umum Hanura pada akhir Desember 2016 lalu. Menarik karena sepak terjang Oso selama ini jauh dari watak bisa dipaksa. Contoh yang sangat gamblang, supaya publik tidak mudah dibohongi dengan memutar balikkan fakta:

  1. Apakah Oso bisa dipaksa untuk mundur dari pertikaian perebutan pimpinan DPD RI dengan Ratu Hemas, beberapa waktu yang lalu, dan ketika dia berhasil duduk sebagai Ketua DPD RI, apakah yang bersangkutan melepas jabatan Wakil Ketua MPR, yang meskipun tidak ada aturan melarangnya, tapi secara etis, dan juga sesuai harapan publik supaya yang bersangkutan konsentrasi memimpin DPD RI, ternyata tetap keukeh tidak bersedia mundur dari Jabatan Wakil Ketua MPR RI. Artinya yang bersangkutan tidak mudah dipaksa-paksa.
  2. Saat Oso sebagai Ketua Umum Partai Hanura, dia ngotot tetap ingin mendaftar sebagai caleg DPD RI, bukan mendaftar sebagai Caleg DPR RI. Semua orang yang waras jadi tercengang, kok Oso tidak berjuang ke Senayan bersama atau mengawal Hanura dengan menjadi Caleg DPD RI bukan DPR RI. Itulah Oso ngotot sampai mengerahkan orang-orang dengan pakaian Hanura mendemo KPU RI untuk menekan supaya Oso tetap bisa diloloskan menjadi Caleg DPD RI. Dalam situasi seperti ini publik setuju dengan langkah-langkah KPU untuk tidak meloloskan Oso sebagai Caleg DPD RI.Oso sampai titik terakhir tetap ngotot padahal seharusnya yang bersangkutan legowo mundur dari pencalonan tersebut. Untungnya KPU RI tidak mempan ditekan Oso. Apakah Oso mudah menurut dan bisa dipaksa dengan menggunakan pendekatan logika sehat? Putusan MK yang berkekuatan tetap, final dan binding ingin ditabraknya karena tidak sesuai dengan keinginannya. Jelas Oso tidak mudah dipaksa-paksa. Kecuali kalau dia mengakali agar terlihat seperti dipaksa.

Bisakah seseorang dipaksa sebagai Ketua Umum partai yang saat itu menjadi bagian dari parpol yang lolos ke Senayan. Yang benar adalah orang akan rela berkoban waktu, tenaga, materi dan lain-lain untuk bisa terpilih dan dipilih menjadi Ketum Parpol yang sudah eksis di kancah politik nasional. Oso membangun opini bahwa dia dipaksa Wiranto untuk mau menjadi Ketum Hanura.
Opini yang absurd, yang benar adalah karena Pak Wiranto tahu dia sangat ingin menjadi Ketum parpol yang bisa lolos ke Senayan, ada momentum yang berpihak ke Oso karena Pak Wiranto sedang menjabat Menkopolhukam, sebagai pembantu Presiden yang tentu sangat sibuk menjalankan kewajibannya sebagai pengendali tertinggi bidang politik, hukum dan keamanan, sulit membagi waktunya secara bersamaan memimpin Hanura.

Tapi tunggu dulu, tidak serta merta Oso bisa melenggang menjadi Ketum Hanura, meskipun dapat restu dari Pak Wiranto. Ada syarat-syarat internal yang harus dipenuhi Oso jika yang bersangkutan mau maju jadi Ketum. Karena dia bukan kader Hanura dan tidak pernah menjadi pengurus Hanura selama minimal 3 tahun berturut-turut, yang bersangkutan harus resmi mengantongi persetujuan Ketua Umum Hanura Wiranto untuk bisa dicalonkan sebagai calon Ketua Umum dalam munaslub Hanura.


Wiranto bersedia memberikan persetujuan asal Oso wajib mundur jika tidak memenuhi harapan Pak Wiranto yang dituangkan dalam suatu PAKTA INTEGRITAS. Jadi Pakta Integritas itu adalah suatu PRASYARAT organisasi agar Oso bisa maju jadi calon Ketum. Jika Prasyarat itu tidak ada, maka dengan sendirinya Oso tidak bisa maju menjadi calon Ketum. Jadi jangankan jadi Ketum, jadi calon Ketum pun tidak bisa jika yang bersangkutan tidak menandatangani Pakta Integritas tersebut. Jadi adalah hal yang berbeda antara pengertian dipaksa jadi Ketum, dengan untuk menjadi Ketum, seseorang harus memenuhi syarat menjadi calon Ketum. Jadi Bagaimana Mekanismenya Oso Dipaksa Jadi Ketum.

Tolong para orang-orang tua yang mengaku pendiri Hanura yang dimotori Yus Usman, yang notabene sudah beberapa kali menghianati Pak Wiranto dan Hanura, istigfarlah dan jangan pura-pura terus bodoh karena nanti jadi bodoh beneran.

Hary Ashar, Kader Hanura

(Andi-SK)

Popular