SOROTKEADILAN | Jum`at, 07 Februari 2020

100 Advokat Siap Mendampingi Muhammad Suparly Dari Ketidak Adilan


Sorot Keadilan.Com.- Jakarta, Muhammad Suparly adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pada saat ini ditugaskan sebagai salah satu Pengamanan Presiden (Paspamres), adapun kronologis masalah yang dialami oleh Muhammad Suparly yang diceritakan langsung oleh yang bersangkutan.

 

Saya mau berbagi cerita untuk leting ku dimanapun kalian berada biar kalian tau kondisi pimpinan saya saat ini khususnya. Pada hari Jumat tanggal 31 Januari 2020 saya Muhammad Suparly turun piket dari istana negara jam 12.00 WIB pada pukul 15.00 WIB dari Mako Tanah Abang dua, saya mengarah pulang menuju rumah didaerah Cikarang menggunakan sepeda motor.

 

Puku 16.00 WIB terjadi insiden dengan pengendara mobil yang dikendarai ibu Linda 'keturunan Tionghoa' kronolginya saya mengendarai motor dari arah Kemayoran menuju Kelapa Gading dan mobil tersebut dari arah Kelapa Gading menuju Kemayoran.

 

"Disepanjang daerah Sunter tepat di disamping danau Sunter mobil tersebut secara tiba-tiba memutar balik tanpa berhenti dan melirik terlebih dahulu, hasilnya saya tidak bisa menghindari kecelakaan karena mobil tersebut memalang jalan saya di tengah-tengah jalur yang saya lewati karena mobil itu di tengah-tengah. Kenapa saya katakan "orang Tionghoa",? Jelas curahan Muhamad Suparly, yang sekarang rame di group-group Watshap seangkatannya.

 

Menurutnya, disini letak ketidak adilan buat dirinya. Saya dipaksa harus damai oleh Danki saya langsung Lettu CPM Agus Chandra Ariston dengan kondisi cacat yang saya alami. Awalnya di RS Mitra Keluarga Sunter saya hany melihat leting saya dua orang yang menemani saya yaitu, Pratu Herianto dan Pratu Burhanudin serta junior-junior saya.

 

Saya minta bantuan junior saya karena pada saat kejadian mobil tersebut ingin melarikan diri, agar memastikan mobil tersebut diamankan di pihak kepolisian, 

Setelah semua aman. Saya tidak mengharapkan atasan saya datang namun, sekitar pukul 20.00 WIB Danki saya datang untuk melihat kondisi saya.

 

Saya cerita dan mengatakan, saya ingin proses dan memberikan pelajaran serta tindakan hukum yang adil untuk pengendara mobil tersebut secara adil. Saksi mengatakan, pengendara mobil itu mengemudi sambil menggunakan HP, dan ingin melarikan diri.

 

Ketika diminta kelengkapan surat-suratnya oleh Polisi dan anggota Pomal yang kebtulan melintas pengendara mobil itu tidak dapat menunjukan SIM A yang membuat saya semakin emosi.

 

Setelah proses panjang sekitar pukul 01.00 WIB saya diperintahlan Danki saya untuk damai dengan isi surat. Motor saya akan diperbaiki sampai benar tanpa ada biaya pengobatan satu rupiah pun dari si pengendara tersebut, saya katakan ke Danki saya, mohon ijin komandan saya cacat saya tidak mau damai uang bisa dicari apalagi tidak ada biaya pengobatan, rumah saya jauh, istri saya kerja dan kuliah, penyampaian Danki saya dengan mudahnya dan sangat menyepelekan saya sebagai golongan Tamtama, udah kamu tanda tangan aja masalah akomodasi nanti kamu minta ke saya.

 

'Apakah kalian percaya dengan kata-kata itu'? 

 

Jelas saya tolak saya tidak mau tanda tangan surat damai lalu Danki saya mengatakan, ya sudah kalau kamu tidak mau tanda tangan saya tinggal dan kamu urus sendiri urusanmu. Saya katakan, siap Danki ijin saya bekerja untuk negara bukan untuk atasan, ini masalah keluarga saya dan saya siap mengatasinya, lalu semuanya pergi meninggalkan saya.

 

Dalam hati saya berkata alhamdulillah karena saya ingin memberikan pelajaran hukum yang adil untuk pengendara mobil tersebut, dipengadilan apapun keputusan pengadilan saya terima ikhlas.

 

Namu setelah tiga puluh menit kemudian sekitar pukul 02.00 WIB Danki saya kembai lagi dan mengatakan dengan halus, udah ini tanda tangan saja Ibu tersebut memberikan biaya pengobatan untuk kamu dua juta, dengan rayuan dan paksaan akhirnya saya tanda tangan surat damai tersebut.

 

Saat itu tidak ada satupun saksi Leeting saya yang menyaksikan paksaan damai itu, saya hanya pasrah dengan keadaan saya saat ini semoga atasan kalian lebi peduli lagi dengan bawahannya. Karna saya anggap rusak negara ini atasan memberikan perlindungan ke orang Tionghoa bukan kepada anggotanya. Kita sudah ruksak ketika kita bisa dibayar orang Tionghoa dan takut sama mereka. Saya pasrah dengan loyalitas tanpa batas semua kejadian ini saya hadapi dengan senyuman dan ikhlas.

 

Bahwa dari Muhammad Suparly diatas selanjutna dibagikan di group-group temna-teman seangkatan yang membuat atasannya tersinggung sehingga Muhammad Suparly ditahan di kesatuan dan tidak diperkenan kan kembali ke rumah bertemu Istri dan Anaknya, selanjutnya Istri Muhammad Suparly menghubungi advokat yakni Bapak Jandry Luhukay untuk meminta pendampingan hukum.

 

Proses pendampingan hukum akan dilakukan oleh DPC Peradi Jakarta Timur melalui bidang advokasi, seratus advokat melakukan pendampingan dan mendesak.

 

"Perlindungan Hukum dari Presiden Republik Indonesia selaku panglima tertinggi angkatan bersenjata Indonesia (ABRI) yang membawahi TNI. Perlindungan hukum dari mentri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Perlindungan hukum dari Panglima TNI. Perlindungan hukum dari komandan Paspamres Mayor Jendral TNI Maruli Simanjutak,"

 

"Agar memberikan jaminan kepada Muhammad Suparly. Kembali kepada keluarga dalam keadaan sehat dan tidak dibawah tekanan. Kembali melaksanakan tugas tanpa ada tekanan dalam bentuk apapun. Terduga pelaku yang mengakibatkan kecelakaan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Oknum atasan yang diduga melindungi terduga diproses baik secara militer maupun sesuai hukum yang berlaku," DPC Peradi Jakarta Timur, Jumat (07/02/2020).

 

(Arman)

Popular