SOROTKEADILAN | Kamis, 31 Januari 2019

FSPMI, KSPI Akan Gelar Unjuk Rasa Terkait Permasalahan Ketenagakerjaan Di Indonesia


Sorot Keadilan.Com - Jakarta, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPMI - KSPI) akan melakukan unjuk rasa pada tanggal 6 Februari 2019 di Istana Negara dan 20 provinsi lain di Indonesia mengundang wartawan baik dari media cetak, online, maupun elektronik, untuk menghadiri Konferensi Pers KSPI yang diselenggarakan di Hotel Mega Proklamasi Jakarta. Kamis (31/1/2019).

 Agenda dalam Konferensi Pers ini adalah penyampaian rencana aksi untuk menyampaikan isu tentang Lapangan kerja – Ancaman PHK – Revolusi Industri 4.0,  BPJS Kesehatan gratis, bukan berbayar, Tolak Upah Murah – Cabut PP 78/2015 – Turunkan Harga, Tolak TKA China Unskill, Hapus Outsourcing dan Kedok Pemagangan.

Said Iqbal (Presiden KSPI). Berdasarkan data Kofederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), sepanjang tahun 2018 telah terjadi gelombang PHK jilid IV. Dampaknya, puluhan ribu buruh kehilangan pekerjaan. 

Berikut catatan FSPMI – KSPI terkait beberapa kasus PHK yang terjadi sepanjang tahun 2018.

Di Serang, Banten, dilaporkan PHK terjadi di PT. Alcorindo (sekitar 600 orang buruh di PHK), PT RWA (sekitar 660 orang buruh di PHK), PT Gand Pintala (sekitar 50 orang buruh di PHK), kemudian ada sebuah pabrik garmen yang melakukan PHK terhadap 600 orang buruh.

Di Bogor, Jawa Barat, PT. IKP tutup menyebabkan sekitar 600 orang buruh ter-PHK. Sementara PT. Tanashin juga dalam proses melakukan PHK, dimana 300 orang buruh terancam kehilangan pekerjaan.

Di Jakarta, PHK juga terjadi di PT. FNG yang mengakibatkan sekitar 300 orang buruh kehilangan pekerjaan, di PT. Pasindoi sekitar 56 orang buruh. PHK juga dilaporkan terjadi di PT. Mahkota (FSKEP) dan PT. Rider (SPN).

PHK besar-besaran juga terjadi di Purwakarta. Dimana tutupnya PT. OFN mengakibatkan sekitar 1.800 orang buruh di PHK, PT. Dada Indonesia menyebabkan 1300 orang buruh di PHK, dan PT. Iljunsun menyebabkan 1.400 orang buruh di PHK. 

Di Subang, tutupnya PT. Hanson Yeol menyebabkan 3.100 orang buruh ter-PHK. Sedangkan di Cimahi, PHK terjadi di PT. SN (Garmen) mengakibatkan 400 orang buruh kehilangan pekerjaan dan di PT. Matahari (ritel) sekitar 1500 orang buruh di PHK. 

Di awal tahun 2018, Aspek Indonesia juga melaporkan, PHK massal terjadi di Indosat dan XL Axiata, sekitar 200 orang buruh. 

Kepala Dinas Tenagakerja dan Transmigrasi Karawang mengatakan, tahun 2018 (hingga akhir Mei), jumlah buruh yang terkena PHK di 2018 sudah mencapai 11.000 orang. Sementara pada 2017 ada 29.000 buruh yang di-PHK.

Di sektor ritel, dilaporkan Giant menutup 19 supermaketnya di Lampung, Medan, Batam, dan lain-lain. Hal ini berdampak terhadap PHK ribuan orang. 

KSPI Nilai Data PHK Pemerintah Tidak Masuk Akal

Berbeda dengan data-data di atas, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Khairul Anwar mengatakan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) mengalami penurunan cukup signifikan dalam 4 tahun terakhir. Data tahunan yang tercatat di Kemenaker menujukan bahwa angka PHK bisa ditekan sepanjang tahun 2018, hanya ada 3.362 orang buruh yang di PHK. 

Sementara itu pada 2014 ada 77.678 buruh yang mengalami PHK, angka tersebut perlahan menurun menjadi 48.843 pada tahun 2015, 12.777 buruh di PHK pada 2016, dan 9.822 sepanjang tahun 2017. 

Angka tersebut tidak masuk akal. Hanya dari 3 (tiga) perusahaan di Purwakarta saja, yang PT Dada Indonesia (1.300 orang) dan PT OFN (1.800 orang), dan PT Ijulsun (1.400 orang) jumlahnya sudah 4.500 orang. Itu hanya di tiga perusahaan dalam satu kabupaten. Bagaimana dengan daerah-daerah lain?

Tidak hanya terjadi di tahun 2018 yang disebut KSPI sebagai gelombang PHK jilid IV. Gelombang PHK juga terjadi pada tahun 2015, 2016, dan 2017. 

Gelombang PHK juga terjadi pada tahun 2015. Kaum buruh menyebut ini adalah gelombang PHK jilid I. Saat itu, PHK menimpa buruh sektor tekstil dan garmen. Sehingga puluhan ribu buruh akan kehilangan pekerjaan. 

Sedangkan gelombang PHK jilid II terjadi pada kurun waktu Januari hingga April 2016, berdampak terhadap industri elektroinik dan otomotif. Di industri elektronik, PHK terjadi di PT Tosiha, PT Panasonik, PT Philips, PT Shamoin, PT DMC dan PT. Ohsung. Sementara itu, pengurangan kayawan di industri otomotif terjadi pada industri sepeda motor dan roda empat serta turunannya, seperti PT Yamaha, PT Astra Honda Motor, PT Hino, PT AWP, PT Aishin, PT Mushashi, PT Sunstar.

Gelombang PHK jilid III terjadi tahun 2017, yang banyak menimpa sektor ritel. Satu hal yang diberitakan luas adalah tutupnya 7-Eleven. Akibat penutupan Seven Eleven, kurang lebih 6.000 orang pekerja di PHK.

(Diana)

 

similar news

Dirjen Pertanian Urung Panen Raya  Jagung di Kabupten Dompu

Dompu Sorot Keadilan.com Warga tutup jalan ke lokasi pane raya jagung. Masyarakat sangat kecewa dan menyesalkan ulah segelintir warga Desa S...

KSBSI Gelar Giat Senam Sehat Dan Deklarasi Dukungan For Jokowi – Ma’ruf Amin.

Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia KSBSI Gelar Giat Senam Sehat Dan Deklarasi Dukungan For Jokowi – Ma’ruf Amin. Sorotkeadilan.com - Jakarta24/02. M...

DIREKTORAT JENDERAL PEMASYARAKATAN GELAR PAMERAN SENI KARYA NARAPIDANA “NAPI CRAFT 2018”

Sorot Keadilan.Com - Jakarta, Pameran seni karya narapidana “NAPI Craft” kembali digelar untuk yang ketujuh kalinya di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta pada 31 Agustus – 7 Nov...

Kapolda Sulbar Mengingatkan Para Perwira Baru Agar Bekerja Dengan “Mata Hati”

Mamuju, sorotkeadilan.com – (20/10/18) Polda Sulbar kembali melahirkan para Perwira lulusan Setukpa yang tercatat sebagai angkatan 47 Wira Satria Wicaksana (WSW)....

Popular