SOROTKEADILAN | Kamis, 13 September 2018

Bengkulu gelar Festival Budaya dan Wisata tahunan, Tabot 2018


BENGKULU, sorotkeadilan.com- (13/9/18) Festival budaya dan wisata, Tabot Bengkulu resmi digelar dan dibuka oleh Plt. Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah pada Senin (10/9/18). Rangkaian acara tradisi Tabot ini dimulai dengan mengambik tanah (ambil tanah) dan berakhir dengan acara Tabot tebuang pada tanggal 10 Muharam mendatang.

Ketua Kerukunan Keluarga Tabot Bencoolen (KKT) Syiafri Syahbuddin mengatakan, ada dua rombongan besar yaitu keluarga Tabot Imam yang melakukan prosesi ambik tanah di kawasan Pantai Nala. Satu rombongan lagi yaitu keluarga Tabot Bangsal melakukan ambik tanah di bawah Benteng Marlborough.

"Sebelum berangkat ke lokasi ambik tanah, kami berkumpul dan pamit kepada raja agung atau Gubernur Bengkulu terlebih dahulu," kata Syiafril di Bengkulu.

Tradisi Tabot dibawa oleh para pekerja Islam dari Madras dan Bengali, India bagian selatan, yang dibawa oleh tentara Inggris untuk membangun Benteng Marlborough (1713—1719) di Kota Bengkulu.

Tradisi Tabot ini digelar selama 10 hari berturut turut terdiri dari sembilan rangkaian ritual. Pertama mulai dari menggambik tanah (mengambil tanah) dari tempat khusus yang di keramatkan atau biasa disebut Gerga.

Di Kota Bengkulu, ritual tabot ini dilakukan pada tanggal 1-10 Muharam setiap tahunnya. Ritual ini dilakukan untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein, di Padang Karbala.

Festival Tabot menjadi salah satu ikon budaya dan wisata Bengkulu menuju Visit Bengkulu 2020. Ada banyak kegiatan budaya dan wisata yang akan berlangsung selama 10 hari.

Event itu diantaranya Duduk Penja (mencuci jari-jari), meradai atau mengumpulkan dana yang dilakukan oleh Jola (orang yang bertugas mengambil dana untuk kegiatan kemasyarakatan). Acara Meradai diadakan pada tanggal 6 Muharam.

Menjara atau berkunjung atau mendatangi kelompok lain untuk beruji/bertanding dol (alat musik sejenis bedug). Kemudian, ada arak Penja, yaitu penja diletakkan di dalam Tabot dan diarak di jalan-jalan utama Kota Bengkulu.

Tahap keenam merupakan acara mengarak penja yang ditambah dengan serban (sorban) putih dan diletakkan pada Tabot kecil.

Tahap ketujuh adalah Gam (tenang/berkabung), merupakan tahapan dalam upacara Tabot yang wajib ditaati. Tahap Gam merupakan saat di mana tidak diperbolehkan mengadakan kegiatan apapun.

Tahap kedelapan dilakukan pada tanggal 9 Muharam juga yang disebut dengan Arak Gendang. Tahap ini dimulai dengan pelepasan Tabot Besanding di gerga masing-masing.

Tahap terakhir dari keseluruhan rangkaian upacara Tabot disebut dengan Tabot Tebuang yang diadakan pada tanggal 10 Muharam. 

Festival Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot.

Hingga kini keturunan Imam Senggolo itulah tetap melestarikan ritual Tabot di Bengkulu sehingga pemerintah daerah menetapkannya sebagai agenda wisata tahunan. (Hendrik)

 

Popular