SOROTKEADILAN | Sabtu, 06 Juli 2019

Kombatan ISIS Minta Pulang,Dilema Keamanan Nasional dan Kemanusiaan.


Kombatan ISIS Minta Pulang,Dilema Keamanan Nasional dan Kemanusiaan.

Sorotkeadilan.com - Jakarta.

Seri diskusi KOPI PAHIT kali ini menyoal eks ISIS yang beberapa waktu terkahir ini banyak yang ingin kembali ke Indonesia. Kabarnya mereka menyesal ikut dalam organisasi separatis itu. 

Pemerintah Indonesia dalam hal ini belum menentukan sikap untuk menerima kembali atau tidak eks kombatan ISIS. Perlu beberapa pertimbangan terkait keberlangsungan keamanan nasional. 

Karena itu, diskusi ini mengambil tema "Kombatan ISIS Minta Pulang, Dilema Keamanan Nasional dan Kemanusiaan," yang digelar di Rosbuck Milk & Caffe, Ruko the Walk no.7, Jakarta Garden City, Cakung Jakarta Timur. 

Menurut Ridlwan Habib, ada kesimpangsiuran jumlah kelompok ISIS yang tertinggal di Suriah, BIN 300an, BNPT dibawah 300, Kemlu gak ada datanya dan Temponews hampir 700.

"Inilah satu hal yang membuktikan bahwa pemerintsh kita terkait kelompok ISIS yang tertinggal di Suriah, pemerintah belum siap," kata Ridlwan alumni Kajian strategi Intelijen Univetsitas Indonesia ini

Lebih lanjut dipaparkannya bahwa orang-orang dari kelompok ISIS yang tertinggal di Suriah ini sebagian besar adalah keluarga dari Kombatan ISIS yang telah meninggal di medan perang.

Isteri-isteri mereka, keluarga mereka, anak-anaknya. Ikhwan-ikhwan yang lemah fisiknya, yang di devisi dapur.

"Inilah yang menjadi dilema kalau memang isteri-isteri mereka dan anak-anak mereka, apa kita akan menghilangkan  rasa kemanusian dengan tidak menjemputnya? namun di medsos ramai ada juga yang menolak bahwa Di Indonesia sudah banyak masalah, mereka memang sudah intensnya mau meninggalkan NKRI, passportnya aja dibakar, menipu dengan mengatakan akan umroh, kenapa harus kita selamatkan, nanti mereka ngebom di sini, nanti mereka membuat kekacuan, mengganggu kebhinnekaan" ungkap Ridlwan.

Lagi-lagi, sambung Ridlwan, bagaimana persepsi masyarakat Indonesia memandang radikalisme yang menurut saya  problem akarnya disitu.

Penanganan mereka saat pulang tidak hanya saat di masukkan karantina tetapi pasca keluar itu harus dipantau dan dimediasi.

"Melawan sebuah gaya hidup, sebuah ideologi tidak bisa dengan peraturan hukum, tidak bisa dengan mengandalkan Undang-Undang karena yang dilawan adalah rasa dan perasaan, bagaimana ia memilih isteri, bagaimana mendidik anak, bagaimana ia menyekolahkan anak, way of life, tidak bisa dilawan dengan undang-undang." paparnya.

Ridlwan menganjurkan solusi menghadapi radikalisme dengan dialog. Pemerintah harus memfalitasi dialog karena rata-rata orang hanya melihat luarnya, tidak mau dialog.

Sementara Abdullah Darraz  berpendapat mereka ( kelompok yang tertinggal di suriah) bagaimanapun harus dipulangkan, otoritas Suriah juga sebenarnya ingin memulangkan karena negara  Suriah juga sudah hancur, mau ngapain?.

"Pemerintah dan elemen-elemen masyarakat harus siap atas kepulangan  mereka dan bagaimana melakukan  treatment-treatment tadi itu," kata Abdullah Darraz pengamat sosial.

(Darman).

Popular